Sabtu, 31 Mei 2008

31 Mei


Ada apa dengan tanggal 31 mei...yup, 31 mei adalah tanggal terakhir di bulan mei, selain itu tanggal ini pada 21 tahun (tepatnya hari minggu dan dalam kondisi hujan lebat di kota bontang) yang lalu telah lahir seorang anak yang saat ini sedang dalam masa sibuk-sibuknya dalam kuliah...secara umur saya menggolongkan diri saya sebagai orang yang sudah melewati 1/3 masa hidup Rosululloh ..hal ini mengingat umur beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Harapan-harapan di usia 21 tahun ini saya berharap dapat lebih dewasa lagi dalam menghadapi masalah..dan lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan -mengingat amanah yang diemban cukup banyak-..dan lebih bisa mengontrol emosi lagi -banyak yang bilang kalau orang Makassar lebih mudah tersulut emosinya- dan sebagai keturunan darah Asli Makassar saya memang merasakannya (Lha, koq jadi SARA)..tapi selebihnya saya bangga dengan memiliki darah makassar.dan harapan terakhirnya tentu saja panjang umur..

Target dalam hidup ini adalah, saya menargetkan awal tahun 2009 saya sudah mampu untuk tutup teori (alias ngajuin skripsi)dan segala hal dalam kuliah telah rampun, baik mata kuliah, Kerja Praktek ataupun Kulih Kerja Nyata. Setalah itu saya menargetkan untuk pulang kampung ke KalTim untuk mencari/melamar kerja (kalo bisa sebelum tahun 2010 dah bisa nyari duit sendiri) dan Insya Allah kalau semua dilancarkan maka tahun 2011 saya menargetkan untuk sudah memulai hidup berumah tangga :)..Aminnn

Brownies....kue yang menurut saya adalah kue enak sekali apalagi kalo gratis..melihat kue ini saya ingin berterima kasih buat Mbak saya yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membuatkan kue ulang tahun ini (hehehe sering-sering aja ya..)..
ini ada barisan kalimat yang saya ambil dari blog sahabat saya yang sekarang ini berada di Makassar, yaitu mas Chaidir, dengan sedikit merubah kata-katanya...Sekalian ngucapin slamat ultah juga buat beliau..

Senja datang menyambut malam di penghujung hari. Anak-anak mulai kembali kerumahnya masing-masing seteleh lelah bermain bola di lapangan. Kupu-kupu malam mulai riang menyambut kedatangan sang rembulan. Di salah satu sudut rumah bersalin, upacara penurunan bendera Merah Putih dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional ditayangkan dalam layar kaca hitam putih telah usai.

Ditengah penantian selama 9 bulan, Ibunda berjuang sekuat tenaga meregang nyawa, demi melahirkan buah hatinya. Ayahnda berdo’a, berharap dengan cemas dan was-was dibalik bilik. Anggota keluarga lainnya pun ikut berdo’a, menanti dan berharap dengan cemas. Seorang bidan yang dibantu perawat ikut membantu proses bersalin. Di akhir penantian itu, “Owekkk…. Owekkkk…” bunyi tangisan sang bayi terdengar membuat Ibunda dan ayanda tak kuasa ikut meneteskan airmata.

Pada hari Minggu 21 tahun yang lalu, lahirlah seorang bayi mungil dengan membawa fitrah dari Tuhannya, diiringi kumandang adzan dan iqomah di kedua telinga. Beribu ucapan selamat dan bahagia disampaikan, berjuta syukur dipanjatkan kepada Yang Kuasa. Dikala semua orang tersenyum menyambut kedatangannya, sang bayi hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata.

Suatu ketika Imam Ghazali pernah bertanya kepada muridnya ”Apa yang paling berat didunia?”. Murid pun bersahutan menjawab “Baja”, “Besi”, “Gajah”. Bukan baja, bukan besi, bukan pula gajah. Tapi yang paling berat menurut Iman Ghazali adalah MEMEGANG AMANAH. Ya.. kehidupan ini adalah amanah. Manusia hidup untuk menanggung amanah menjadi hamba dan ‘khalifah’.

Arghh… aku begitu payah, aku begitu lemah, tak kuasa menanggung amanah. Ah.. untuk apa aku berkeluh kesah. Apakah keluh kesah akan menyelesaikan masalah? Bukankah lebih ber-muhasabah.

Ya Allah.. betapa jalan yang kulalui ini tidaklah mudah. Aku selalu tersandung dan terjatuh dalam lubang kemaksiatan. Lalu berusaha bangkit meskipun sambil tertatih untuk kembali ber’jalan’. Entah berapa kali ku mohon ampun, namun sudah entah berapa kali jua aku melanggar.

Tuhanku.. ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku.. maafkanlah kejahilan hamba-Mu

Kusering melanggar larangan-Mu dalam sadar ataupun tidak
Kusering meninggalkan suruhan-Mu walau sadar aku milik-Mu

Bilakah diri ini kan kembali kepada fitrah sebenar
Pagiku ingat petangku alpa begitulah silih berganti

Oh Tuhanku.. kau pimpinlah diri ini yang mendamba cinta-Mu
Aku lemah.. aku jahil.. tanpa pimpinan dari-Mu

Kusering berjanji depan-Mu.. sering jua ku memungkiri
Kupernah menangis karena-Mu.. kemudian ketawa semula

Kau Pengasih.. Kau Pengampun.. Kepada hamba hamba-Mu
Selangkahku kepada-Mu.. seribu langkah Mu padaku

Tuhan diri ini tidak layak ke surga-Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka-Mu

kutakuk kepada-Mu.. kuharap jua padamu
Moga ku kan selamat.. dunia akhirat.. seperti Rosul dan sahabat

Tidak ada komentar: